jump to navigation

Pemanasan Global atau Pendinginan Globalkah? May 13, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
trackback

Judul di atas adalah pertanyaan retoris yang timbul karena kesimpangsiuran dari kondisi iklim akhir-akhir ini. Para pakar lingkungan terkonsentrasi pada pernyataan bahwa saat ini dan masa depan telah dan akan terjadi global warming atau pemanasan global. Pakar-pakar menyatakan bahwa telah terjadi pemanasan global berdasarkan data dan informasi kondisi saat ini yang mendukung. Beberapa faktor pendukung pernyataan bahwa telah terjadi pemanasan global adalah atmosfer bumi yang telah dipenuhi oleh konsentrasi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2), nitrousoksida (NOx), metana (CH4), dan chloro fluoro carbon (CFC). Gas rumah kaca bersifat menaikkan suhu udara Bumi. Adanya konsentrasi gas rumah kaca mengakibatkan suhu bumi menjadi lebih tinggi. Hal ini disebabkan gas rumah kaca menghambat keluarnya radiasi pantulan gelombang pendek dari bumi ke atmosfer. Oleh karena itu, seakan-akan bumi mendapatkan pemanasan dua kali, yaitu dari radiasi gelombang pendek matahari dan pantulan radiasi gelombang panjang dari bumi.

 

Sampai tahun 2000 atmosfer bumi mengandung sekitar 370 ppm CO2 berdasarkan volume. Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan dengan angka 285 ppm pada tahun 1850, ini menunjukkan bahwa konsentrasi CO2 terus meningkat di atmosfer. Pemanasan global atau pendinginan globalkah? Di lain pihak, sebagian para ahli yang berlawanan pemikiran menyatakan bahwa masa depan adalah era pendinginan global (global cooling). Adalah Jhon Martin seorang yang memperkenalkan hipotesis tentang besi (The Iron Hypothesis) pada tahun 1989. Dalam hipotesisnya, dia mengajukan pendapat, besi dapat berperan dalam proses pendinginan global. Tetapi, belum sempat dibuktikan kebenaran teorinya tersebut, dia telah lebih dahulu meninggal dunia pada 1993 karena kanker prostat yang dideritanya. Ada beberapa kenyataan yang mendukung pernyataan pendinginan global. Pertama, pada banyak kawasan di beberapa tempat di muka bumi masih terdapat daerah yang suhu udaranya berada di bawah 0 derajat Celcius. Indikasi terjadinya pemanasan global adalah kenaikan suhu yang ekstrem daripada sebelumnya.

 

Kedua, kalau kita merujuk data yang dikeluarkan Carbondioxide Information Analysis Centre (CDIAC), salah satu pusat penelitian milik Departemen Energi Amerika Serikat, menunjukkan beberapa hal bahwa perubahan suhu terhadap kondisi saat ini bersifat fluktuatif naik-turun dari masa ke masa. Perubahan suhu tersebut membuat suatu pola siklus. Jika dianalisis menunjukkan periode waktu keberulangan sekitar 100.000 tahun. Mungkin saja suhu yang naik seperti yang terjadi sekarang ini sebenarnya bukan pemanasan global, tetapi suhu yang sedang berada di puncak dan selanjutnya akan turun kembali mengikuti pola siklus perubahan suhu. Ketiga, kondisi di atmosfer, yakni selain terdapat golongan gas rumah kaca yang memanaskan bumi, juga terdapat golongan yang berlawanan sifatnya dengan gas rumah kaca yaitu aerosol. Aerosol bersifat mendinginkan atmosfer.

 

Aerosol adalah partikel halus berukuran 0,001 mikron yang berasal dari pecahan benda-benda padat di bumi. Sumber aerosol dan komposisinya secara global antara lain: debu sebagai hasil dari embusan angin 20 persen; garam dari air laut yang terpercik bersamaan gelombang laut 40 persen; abu sebagai hasil dari kebakaran hutan 10 persen; dan sisanya berasal dari partikel asap sebagai hasil kegiatan industri 5 persen. Komposisi dan sumber aerosol tersebut menunjukkan, laut sebagai penyumbang aerosol terbesar jika dibandingkan dengan sumber aerosol yang lain. Dan laut menempati 2/3 dari wilayah bumi yang kita huni ini. Laut juga penyerap emisi CO2 terbesar.

 

Letusan Gunung El Chichon (1982) atau Gunung Pinatubo (1991) di Filipina mengakibatkan efek pendinginan pada bumi selama beberapa tahun karena banyaknya aerosol sulfat yang terekspos ke atmosfer. Saat yang berbeda adalah pada kejadian fenomena El Nino, yakni suhu permukaan laut (SST, sea surface temperature) akan lebih besar daripada kondisi normal. Pada kondisi seperti ini senyawa DMS yang dihasilkan fitoplankton semakin besar.  Booming plankton (ledakan populasi plankton) karena eutrofikasi (pengayaan nutrisi pada badan air) dapat juga mengakibatkan banyaknya senyawa DMS yang dihasilkan fitoplankton terlepas ke atmosfer. Eutrofikasi pada badan air (seperti sungai dan danau) terjadi karena perubahan tata guna lahan yang mengakibatkan erosi dan sedimentasi pada badan air.  

 

Untuk memprakirakan ke depan apakah pemanasan global atau pendinginan global, perlu dianalisis kekuatan dari masing-masing komponen pembentuk pemanasan global atau pendinginan global. Waktu hidup CO2 dapat mencapai 100 tahun lebih di atmosfer, sedangkan sulfat beberapa tahun saja. Keduanya, baik gas rumah kaca dan aerosol berperan penting dalam regulasi iklim bumi sehingga bumi nyaman untuk dihuni. Akhirnya semua kita serahkan kepada-Nya, mari kita jaga bumi ini untuk esok yang lebih baik lagi.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: