jump to navigation

Dari Bulan Sabit Waktu Sahur September 29, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
trackback

Bulan tampak dari Bumi

”(Misi kali ini) akan menjadi jalan antariksa (spacewalk) pertama China dan langkah lain dalam rencana ambisius untuk membangun stasiun angkasanya sendiri tahun 2015 dan—bila kabar burung itu benar—untuk mendaratkan antariksawannya di Bulan tahun 2020.” (Newsweek, The Asian Space Race, 29/9)

Sepekan terakhir hingga akhir Ramadhan, Bulan–benda langit yang paling dekat dengan Bumi–berada dalam fase pascaperempatan ketiga atau perempatan terakhir. Bulan pada fase ini bisa dikatakan banyak dilewatkan oleh pengamat, berbeda dengan Bulan yang sedang berada di perempatan pertama hingga Bulan purnama.

Penyebabnya adalah pada perempatan terakhir Bulan terbit tengah malam dan baru terbenam pada tengah hari. Tentu saja Bulan berbentuk sabit ini masih tampak hingga pagi hari. Namun, hanya sedikit orang yang terpikir mencari Bulan di langit pagi. Bahkan, tidak sedikit orang heran atau bahkan takjub melihat Bulan di langit pagi hari.

Ketika penentuan 1 Syawal masih sering dikaitkan dengan penampakan hilal atau terlihatnya piringan tipis Bulan di dekat ufuk Barat pada akhir Ramadhan, maka mengikuti fase Bulan pada hari-hari terakhir bulan ini bisa jadi merupakan aktivitas menarik seusai sahur.

Seraya dengan itu, imajinasi tentang Bulan pun melayang jauh, dari Bulan sebagai obyek mitologi hingga Bulan sebagai pangkalan angkasa bagi eksplorasi angkasa jauh masa depan. Bulan tak pelak lagi merupakan bagian dari rencana koloni angkasa, ide yang dirasakan makin masuk akal ketika Bumi yang selama ini menjadi habitat manusia semakin tidak nyaman dihuni, baik karena semakin panas maupun karena semakin sesak.

Kemarin dan esok

Dalam riwayat kemarin, catatan paling spektakuler tentang ekspedisi ke Bulan tentu Proyek Apollo yang dilakukan oleh AS pada dekade 1960-an dan 1970-an. Mendahului Apollo, Uni Soviet juga sudah mengirim Luna 2 ke Bulan tahun 1959, tetapi wahana ini menghantam permukaan Bulan dengan keras (crash landing). Pada tahun itu pula Soviet mengirim Luna 3 yang berhasil memotret permukaan jauh Bulan yang hingga saat itu belum pernah dilihat manusia. Di sini tampak bahwa Uni Soviet tampak selangkah lebih maju dibandingkan AS dalam peluncuran roket di pengujung dekade 1950-an itu.

Tekad Presiden JF Kennedy untuk mendaratkan warga Amerika di permukaan Bulan sebelum berakhirnya dekade 1960-an dalam pidatonya di Kongres AS 25 Mei 1961 dipicu oleh rangkaian program angkasa yang dicapai Uni Soviet, khususnya peluncuran Sputnik Oktober 1957 dan peluncuran Yuri Gagarin April 1961. Ruang angkasa saat itu telah menjadi bagian kompetisi Perang Dingin di antara kedua adidaya dunia.

Berikutnya, Bulan pun juga menjadi target kompetisi, yang kemudian dimenangi oleh AS setelah berhasil mendaratkan Neil Armstrong pada Bulan pada 21 Juli 1969 melalui misi Apollo 11. Setelah Program Apollo berakhir dengan peluncuran Apollo 17 tahun 1972, lalu Uni Soviet juga mengakhiri program Bulan- nya tahun 1974, minat ke Bulan seolah tak punya prospek lagi.

Namun, beberapa tahun berikutnya setelah lomba angkasa beralih fokus ke program wahana ulang-alik untuk misi dekat Bumi, minat ke Bulan tumbuh lagi. Kini bahkan mengikutsertakan peserta-peserta baru.

Jepang pada 14 September 2007 meluncurkan Misi Kaguya (Dewi Bulan), diikuti oleh peluncuran misi China Chang’e-1 pada 24 Oktober 2007. India diberitakan juga sedang mempersiapkan peluncuran misi Chandrayaan I pada Oktober 2008 ini. Sementara pemain lama, dalam hal ini AS dan Rusia, juga tak mau ketinggalan. Februari 2009 AS dijadwalkan meluncurkan Wahana Pengintai Bulan, sementara Rusia pada tahun yang sama juga akan meluncurkan misi Luna-Glob.

Eksplorasi itu tentu akan diikuti oleh misi berawak yang akan mendaratkan antariksawan masing-masing ke permukaan Bulan sebagaimana dilakukan oleh awak Apollo hampir 40 tahun silam. Hanya saja, misi ke depan ini disertai perspektif untuk pemanfaatan lebih jauh. Bulan sebagai lokasi uji coba koloni angkasa punya sejumlah nilai plus. Lokasinya yang relatif dekat dibandingkan Planet Mars, misalnya, akan jauh lebih memudahkan dalam transportasi material yang dibutuhkan.

Pada gilirannya nanti, hasil uji coba di Bulan pasti akan menjadi bekal berharga bagi aktivitas koloni di planet lain.

Partisipasi RI?

Dalam edisi Newsweek yang dikutip di atas dilaporkan perihal lomba antariksa Asia yang dipicu oleh kebangkitan China. Di sana disebutkan, pihak yang merasa paling terpicu adalah India, yang di satu sisi tampak akan dikalahkan China dalam lomba ke Bulan. Disebutkan, China berencana mendaratkan antariksawannya di Bulan tahun 2018 (atau 2020). Untuk itu anggaran yang disediakan Pemerintah China sebesar 2,5 miliar dollar AS, sementara India menyediakan 1 miliar dollar AS.

Fakta itu mungkin membuat kita merasa takjub. India tentu menyadari bahwa sekarang ini program pembangunan ekonomi untuk membuat lebih dari satu miliar penduduknya lebih sejahtera masih merupakan prioritas. Tetapi, sebagaimana bangsa ini bertekad mengembangkan kemampuan nuklir dan teknologi roket, mereka pun keras hati untuk ruang angkasa. Pemimpin Program Antariksa India Madhavan Nair, seperti dilaporkan Newsweek, membela program ini. Menurut dia, untuk setiap 1 dollar AS yang ditanamkan di program angkasa, India memperoleh 2 dollar AS.

Dibandingkan dengan anggaran Program Bulan India, anggaran Lapan hanya Rp 200 miliar (sekitar 20 juta dollar AS) per tahun. Sama-sama punya komitmen terhadap program angkasa, tampaknya pimpinan program ruang angkasa India dan Indonesia (Adi S Salatun) harus menyusuri jalan berlainan.

Padahal, dilihat dari berbagai sudut pandang, program peroketan—tidak harus yang bisa mencapai Bulan—besar manfaatnya, baik bagi tujuan sipil maupun militer. Dalam kaitan inilah sebaiknya Indonesia memberi fokus lebih besar terhadap program peroketan. Terakumulasinya pengalaman dan tenaga ahli bagi program ini diharapkan akan membangunkan komitmen untuk melaksanakan program lebih inovatif di bidang keantariksaan, yang sering disebut sebagai ”perbatasan terakhir”(the last frontier).

Pemandangan bulan sabit pada pagi hari memang menggugah inspirasi. Bahkan, pemandangan itu sempat memunculkan kembali pidato Presiden Kennedy itu, yang tersurat menyatakan harapan terhadap bangsanya, tetapi sebenarnya merupakan amanat agar bangsa Amerika menyatukan segala kemampuan yang dimiliki untuk bisa mendarat di Bulan. ”I believe that this nation should commit itself to achieving the goal before this decade is out of landing a man on the Moon and returning him safely to the Earth.”

Semoga semangat visioner seperti itu satu hari nanti juga hadir di sini.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: