jump to navigation

Foto Pertama Planet di Luar Tata Surya November 15, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment
Planet Fomalhaut b yang pertama kali tertangkap gambarnya mengorbit di bintang induk, Fomalhaut.

Gambar pertama dari sebuah sebuah planet di luar tata surya berhasil ditangkap oleh Teleskop Ruang Angkasa Hubble. Gambar tersebut (kiri) menunjukkan planet yang dikenal sebagai Fomalhaut b dan berukuran sebesar planet Jupiter.

Planet ini tertutup cakram debu yang mengelilingi bintang Fomalhaut. Keberadaan planet itu telah diketahui sejak tahun 2005 berdasarkan tarikan gravitasi di sekitarnya.

Namun, ini untuk pertama kalinya Fomalhaut b berhasil diabadikan gambarnya. Meskipun menggunakan koronograph Hubble untuk mengurangi kilauan cahaya bintang, planet itu tetap tak tertangkap oleh teleskop apabila tak berada di orbit yang luas.

Dr Paul Kalas, astronom dari University of California di Berkeley, mengaku kagum dengan penemuan yang dipimpinnya itu. “Sungguh pengalaman mengagumkan dapat mengamati planet yang tak terlihat sebelumnya.”

Fomalhaut terletak sekitar 200 juta tahun cahaya dan 16 kali lebih terang cahayanya dari Matahari. Fomalhaut diperkirakan akan terbakar dalam waktu sekitar 1 miliar tahun sehingga dianggap sebagai bintang yang berusia pendek.

NASA Temukan Tata Surya Baru Berisi 3 Planet November 15, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment
Ilustrasi tiga planet yang mengelilingi bintang HR 8799.

Selain berhasil memotret planet asing di luar tata surya untuk pertama kalinya, para ilmuwan NASA juga menemukan tiga planet baru yang mengelilingi satu bintang. Namun, ketiganya terlalu jauh sehingga tidak dapat direkam secara langsung.

“Setiap planet ekstrasolar terdeteksi pada jarak sangat jauh sehingga hanya dapat diketahui dari gelombang di grafik pengamatan,” ujar Bruce Macintosh, pakar astrofisika dari Laboratorium Nasional Lawrence Livermore, California, AS.

Trio planet itu mengorbit bintang HR 8799 yang berada di konstelasi Pegasus, 130 tahun cahaya dari Bumi (1 tahun cahaya setara dengan 9,46 triliun kilometer). Bintang yang menjadi pusat tata surya itu mirip Matahari dengan ukuran 1,5 kali lebih besar.

Masing-masing planet terletak pada jarak 24, 38, dan 68 unit astronomi dari bintangnya (1 AU setara dengan 150 juta kilometer). Dua planet yang terdekat dengan bintang berukuran 10 kali massa Planet Jupiter dan yang terjauh 7 kali massa Planet Jupiter.

Planet-planet tersebut diperkirakan baru berumur 60 juta tahun sehingga bisa dikatakan sangat muda dalam standar astronomi. Bagian permukaannya masih sangat panas dengan bola-bola api yang masih sering terbentuk di atasnya. Sebagai perbandingan, Bumi telah berumur 4,5 miliar tahun.

Orbit ketiga planet termasuk berada di luar seperti Jupiter mengelilingi Matahari. Jika tata surya tersebut memiliki sifat seperti tata surya kita, ada kemungkinan planet lain di orbit lebih dalam yang berukuran lebih kecil.

“Saya kira masih besar peluangnya menemukan planet lain di sistem tata surya tersebut,” ujar Macintosh. Para astronom menyatakan target berikutnya adalah mencari planet yang memiliki sifat seperti Bumi.

Penemuan tata surya seperti Matahari yang berpusat di bintang HR 8799 merupakan petunjuk untuk mencari planet seperti Bumi. Yang sering menjadi masalah adalah planet padat seperti Bumi lebih sulit dideteksi dan lebih dekat dengan bintangnya sehingga kalah dengan pancaran cahaya bintang.

Penemuan trio planet diumumkan, Kamis (13/11) bersamaan dengan publikasi foto pertama planet ekstasolar yang dimulat jurnal Science teranyar. NASA mengkalin untuk pertama kalinya memotret planet Fomalhaut b yang mengelilingi bintang bernama Fomalhaut dengan gabungan foto teleskop ruang angkasa Hubble dan sejumlah teleskop terestrial.

Ancaman Itu Datang dari Matahari October 22, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment

Matahari. Sinar dan panasnya tentu begitu penting bagi kelangsungan kehidupan di muka bumi ini sepanjang masa. Namun, di balik benderangnya benda langit itu tersembunyi ”sisi gelap” yang mengganggu kondisi di bumi, yaitu bintik hitam (sunspot) yang diikuti badai dan flare.

Sebagai pusat peredaran planet-planet di tata surya, matahari merupakan sumber energi bagi makhluk di bumi. Energi itu dihasilkan dari reaksi termonuklir untuk mengubah hidrogen menjadi helium yang terjadi di dekat inti matahari. Suhu di bagian pusat matahari yang terdiri dari gas berkerapatan 100 kali kerapatan air di bumi itu, mencapai 15 juta derajat Celsius.

Di dalam perut matahari terjadi rotasi dan aliran massa atau konveksi yang memengaruhi gaya magnetnya. Pada aktivitas tinggi, gaya magnet ini bisa terpelintir atau berpusar hingga menembus permukaan matahari membentuk ”kaki-kaki”, yang tampak bagai bintik hitam.

Bintik hitam matahari memiliki diameter sekitar 32.000 kilometer, umumnya terdiri dari dua bagian, yaitu bagian dalam yang disebut umbra, berdiameter 13.000 km atau seukuran diameter rata-rata bumi dan bagian luar disebut penumbra yang garis tengahnya kurang lebih 19.000 km. Suhu penumbra lebih panas dan warnanya lebih cerah dibanding umbra.

Suhu gas yang terbentuk di lapisan fotosfer dan kromosfer di atas kelompok bintik hitam itu naik sekitar 800º Celsius di atas suhu normalnya. Akibatnya, gas ini memancarkan sinar lebih besar dibandingkan dengan gas di sekelilingnya.

Setelah beberapa hari, pelintiran magnetik ini terpecah menjadi beberapa pelintiran lebih tipis. Masing-masing bergerak melintasi permukaan ke berbagai arah hingga menghilang.

Seperti di bumi, di permukaan matahari pun terjadi badai. Badai matahari terjadi di daerah kromosfer dan korona—berada di atas kawasan munculnya bintik-bintik hitam. Beberapa badai matahari juga muncul ketika terjadi ledakan cahaya atau flare. Ketika flare muncul, terjadi pelepasan sejumlah besar energi. Umumnya, kian banyak bintik hitam terbentuk, maka flare pun makin banyak.

Dampak

Flare yang mengeluarkan partikel kecepatan tinggi dalam badai matahari menyebabkan timbulnya tekanan pada magnetosfer bumi hingga mengakibatkan badai magnetik di bumi. Fenomena ini mengganggu komunikasi radio dan membuat jarum kompas berputar liar di bumi.

Bintik hitam matahari dan flare, menurut Sri Kaloka, Kepala Pusat Pengamatan Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), telah menimbulkan dampak berarti di beberapa wilayah di bumi—terutama di lintang tinggi—karena meningkatnya elektron di lapisan ionosfer. Tahun 1980-an, misalnya, pembangkit listrik di Quebec, Kanada, padam akibat terpengaruh badai matahari.

Gangguan di lapisan ionosfer di ketinggian 60 km-6.000 km dari permukaan bumi ini juga menyebabkan kekacauan dalam penyampaian sinyal komunikasi frekuensi tinggi, yang menggunakan lapisan itu sebagai media pemantul sinyal. Sistem navigasi dengan satelit global positioning system menjadi tidak akurat.

Jumlah bintik hitam yang tampak dari pengamatan dari bumi bervariasi, dari 1-100 titik. Bintik ini butuh waktu 11 tahun untuk mencapai jumlah tertinggi, lalu menurun lagi. Periode ini disebut siklus bintik matahari.

Sri Kaloka mengingatkan, puncak jumlah bintik hitam dapat terjadi lagi tahun 2011. Karena itu, semua pihak yang berkaitan dengan potensi dampak hendaknya mengantisipasi.

Data pemantauan bintik matahari dan flare terpantau di Pusat Pengamatan Dirgantara Lapan di Tanjungsari, Sumedang, sejak stasiun itu beroperasi 1975. Data itu dapat dimanfaatkan semua pihak yang berkepentingan. Hasilnya dikirimkan ke Bank Data di Swiss, urai Sri.

Periode dingin

Dalam kondisi ekstrem, baik tinggi maupun rendah, bintik hitam atau flare memberi dampak buruk bagi kondisi di bumi. Saat ini kejadian bintik hitam, menurut Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Mezak Ratag, justru dalam titik terendah.

Bintik hitam adalah indikator aktivitas matahari. Bila sedikit jumlahnya, energi yang dipancarkan matahari berkurang, yaitu 0,1 persen pada cahaya tampak, tetapi bisa puluhan persen pada ultraviolet. Kejadian bintik matahari bisa berkurang akibat menurunnya aktivitas dinamo matahari, konveksi, dan atau tekanan radiasi dari reaksi nuklir di pusat matahari.

Dalam beberapa tahun terakhir terjadi anomali aktivitas matahari itu. ”Hanya beberapa hari saja dalam dua tahun terakhir ini terpantau aktivitas bintik matahari,” ujar Mezak. Kondisi permukaan matahari hampir tanpa sunspot dalam beberapa tahun terakhir itu dikhawatirkan mengarah pada minimum Maunder kedua setelah kejadian pendinginan global sekitar tahun 1600-an.

Rendahnya aktivitas matahari berarti berkurangnya suplai panas ke bumi secara rata-rata global dalam skala waktu tahunan— bukan harian atau bulanan. Akan tetapi, pemanasan lokal masih bisa terjadi. Seperti beberapa bulan terakhir, suhu laut di bagian timur agak hangat, urai Mezak.

Berkurangnya suplai energi dari matahari pada bumi menyebabkan berkurangnya pemanasan lautan, berarti pula penguapan air laut yang akan menjadi hujan pun rendah.

Menurunnya suplai energi matahari juga melemahkan monsun. Gerakan angin monsun terjadi karena perbedaan panas antarlautan dan benua berdasarkan posisi garis edar matahari.

Pengaruh matahari ini tidak berkorelasi dengan peningkatan suhu udara beberapa pekan terakhir. Tingginya suhu udara di bumi disebabkan tingginya uap air, tetapi sedikit yang terbentuk menjadi awan, sedangkan matahari sudah di lintang selatan. Cahaya matahari sampai ke permukaan bumi tanpa halangan awan. Namun, inframerah yang dipancarkan ke bumi tertahan uap air sehingga menaikkan suhu. Uap air banyak dari laut.

Itu dijelaskan Mezak selaku Executive Panel Riset Monsun Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada pertemuan WMO di Beijing, Selasa (21/10), berdasarkan laporan sejumlah ilmuwan dari AS, China, dan Australia. Mereka mengatakan, ada tren pelemahan monsun di berbagai tempat di bumi. ”Di Indonesia, kondisi itu mengakibatkan pelemahan monsun rata-rata dalam beberapa tahun terakhir, tetapi variasinya dari tahun ke tahun bisa besar,” tambahnya.

Senin (20/10), Pusat Data Aktivitas Matahari (SIDC) di Belgia menghentikan peringatan ”All Quiet Alert”, karena peneliti di sana mendeteksi adanya aktivitas di matahari. Namun, laporan ini belum final, mengingat banyak pakar astrofisika matahari meyakini perioda aktivitas rendah ini masih akan berlangsung lama hingga berdampak pendinginan global (global cooling).

Pada kondisi belakangan ini, China mengalami musim dingin paling dingin dalam 100 tahun terakhir, Amerika Utara mencatat rekor tinggi salju, Inggris mengalami April terdingin.

Kondisi ini bukan pertama kali ini terjadi. Dari catatan sejarah, tahun 1645-1715 matahari hampir tanpa bintik, aktivitasnya sangat lemah. Pada kurun waktu itu, suhu permukaan global sangat rendah sehingga dinamakan Zaman Es Kecil.

Ditemukan, Planet Terpanas di Jagad Raya October 22, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment
Ilustrasi tiga planet asing yang terekam spektograf HARPS di Observatorium La Silla, Chili.

Dalam usaha perburuan planet-planet di luar tata surya kita, para peneliti menemukan planet yang dianggap paling panas. Planet bernama WASP-12b itu menyala dalam suhu 2.200 derajat Celcius, dan mengorbit bintangnya lebih cepat dan lebih dekat dibanding planet lain.

Planet tersebut mengitari bintangnya dalam sehari. Sebagai perbandingan, planet di tata surya kita yang paling cepat mengorbit Matahari adalah Merkurius, yang mengorbit Matahari sekali dalam 88 hari.

Untuk mencapai waktu orbit sedemikian cepat, planet itu berada sangat dekat dengan bintangnya, dengan jarak sekitar 3,4 juta kilometer atau hanya 2 persen dari jarak Bumi ke Matahari.

“WASP-12b adalah benda langit yang menarik karena ia memiliki waktu putar terpendek sekaligus menjadi planet terpanas,” kata Don Pollacco dari Queen’s University di Irlandia Utara, yang merupakan salah satu peneliti proyek SuperWASP (Super Wide Angle Search for Planets).

WASP-12b adalah planet gas, sekitar 1,5 kali massa Jupiter dan ukurannya hampir dua kali lipatnya. Planet yang mengelilingi sebuah bintang sejauh 870 tahun cahaya dari Bumi ini penting terutama karena memberi gambaran sedekat apa jarak sebuah planet dengan tanpa menjadi hancur.

“Ada batasan jarak karena semakin dekat sebuah planet terhadap bintangnya, pengaruh radiasinya makin kuat dan dalam satu titik, planet tersebut akan hancur mendidih karena panas bintangnya,” ujar Pollacco. “Sebelumnya, orang-orang menduga sebagai sesuatu yang mustahil sebuah planet bisa memutari bintangnya dalam sehari dan bisa sedekat itu.”

Planet ini juga sedemikian panas sehingga suhunya mirip dengan suhu beberapa bintang. Walau begitu, ia bukanlah sebuah bintang karena massanya tidak cukup besar untuk menghasilkan reaksi panasnuklir yang menjadi ciri sebuah bintang.

Pesan Penduduk Bumi untuk Alien October 10, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment
Ilustrasi HD 189733b, planet sebesar Jupiter yang berada pada jarak 63 tahun cahaya dari Bumi. Atmosfernya mengandung uap air dan metan.

Ribuan teks, gambar, dan foto telah dipaket dan dikirimkan ke planet asing yang berjarak 20 tahun cahaya dari Bumi atau setara 120 triliun kilometer. Pesan tersebut merupakan kumpulan hasil karya jutaan pengguna situs jejaring sosial Bebo melalui kompetisi yang disebut A Message From Earth.

Total terdapat 501 karya yang terpilih untuk dikirim ke luar angkasa dengan harapan muluk diterima alien dan dibalas. Seluruh karya dalam bentuk digital itu telah diterjemahkan ke dalam format biner dan dipancarkan melalui gelombang radio dari sebuah teleskop radio raksasa RT-70 milik Badan Antariksa Nasional di Ukraina.

Pengiriman pesan telah dilakukan Kamis (9/10) pukul 13.00 WIB. Oli Madgett dari Bebo mengatakan pesan tersebut sampai ke Bulan dalam 1,7 detik kemudian, dampai Mars dalam 4 menit, dan akan meninggalkan tata surya sebelum Jumat (10/10) pagi.

Target terakhir yang dituju adalah Planet Gliese 581C. Pesan tersebut baru akan sampai ke planet tersebut pada awal 2029. Gliese 581C merupakan salah satu planet ekstrasolar yang padat dan mengelilingi bintang serupa Matahari sehingga sering disebut super-Bumi.

“Pesan dari Bumi merepresentasikan kesempatan bagi pemukim digital hari ini untuk selalu terhubugn dengan sains dan alam semesta yang lebih luas secara sederhana, menyenangkan, dan mendalam,” ujar Mark Charkin, jurubicara Bebo.

Ada tidaknya makhluk lain selain manusia nun jauh di sana bukan hal yang utama. Kalaupun ada, apakah mereka dapat mengerti pesan tersebut juga tidak terlalu penting.

“Yang penting mungkin sangat sederhana, paling tidak ini bukit bahwa kita cukup pandai membuat pemancar radio,” ujar Seth Shostak, seorang astronom senior dari Search of Estraterestrial Institute (SETI) yang aktif melakukan pencarian terhadap alien.

Jadi, kalau ada alien yang menangkap pesan tersebut, mereka tahu ada makhluk yang sepintar mereka. Selain itu, mereka dapat melacak ke Bumi, asal gelombang dipancarkan.

Demi Turis, Stasiun Luar Angkasa Digeser October 8, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment
International Space Station atau stasiun ruang angkasa internasional difoto bulan Maret 2008 dari pesawat ulang alik Endeavour.

Demi memenuhi hasrat turis luar angkasa yang kaya raya, orbit Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) digeser sekitar 1,25 kilometer (km) dari orbit semula, sekitar 353 km di atas permukaan Bumi, Sabtu (4/10). Pergeseran ISS berlangsung otomatis.

Pergeseran itu, seperti dilaporkan Interfax mengutip pernyataan resmi pejabat program luar angkasa Rusia, dilakukan untuk mencapai posisi optimal bagi pendaratan roket Soyuz milik Rusia. Roket itu membawa kosmonot Rusia Yuri Lonchakov dan astronot AS Michael Fincke, serta turis Richard Garriott.

Roket Soyuz TMA-13 akan diluncurkan 12 Oktober 2008 dari Kazakhstan. Richard Garriott, anak astronot AS Owen Garriott, harus membayar sedikitnya 30 juta dollar AS kepada Space Adventures, perusahaan berbasis di AS, yang mengatur perjalanannya. Dia adalah turis luar angkasa keenam. Ia akan mengangkasa selama delapan hari.

Dari Bulan Sabit Waktu Sahur September 29, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment

Bulan tampak dari Bumi

”(Misi kali ini) akan menjadi jalan antariksa (spacewalk) pertama China dan langkah lain dalam rencana ambisius untuk membangun stasiun angkasanya sendiri tahun 2015 dan—bila kabar burung itu benar—untuk mendaratkan antariksawannya di Bulan tahun 2020.” (Newsweek, The Asian Space Race, 29/9)

Sepekan terakhir hingga akhir Ramadhan, Bulan–benda langit yang paling dekat dengan Bumi–berada dalam fase pascaperempatan ketiga atau perempatan terakhir. Bulan pada fase ini bisa dikatakan banyak dilewatkan oleh pengamat, berbeda dengan Bulan yang sedang berada di perempatan pertama hingga Bulan purnama.

Penyebabnya adalah pada perempatan terakhir Bulan terbit tengah malam dan baru terbenam pada tengah hari. Tentu saja Bulan berbentuk sabit ini masih tampak hingga pagi hari. Namun, hanya sedikit orang yang terpikir mencari Bulan di langit pagi. Bahkan, tidak sedikit orang heran atau bahkan takjub melihat Bulan di langit pagi hari.

Ketika penentuan 1 Syawal masih sering dikaitkan dengan penampakan hilal atau terlihatnya piringan tipis Bulan di dekat ufuk Barat pada akhir Ramadhan, maka mengikuti fase Bulan pada hari-hari terakhir bulan ini bisa jadi merupakan aktivitas menarik seusai sahur.

Seraya dengan itu, imajinasi tentang Bulan pun melayang jauh, dari Bulan sebagai obyek mitologi hingga Bulan sebagai pangkalan angkasa bagi eksplorasi angkasa jauh masa depan. Bulan tak pelak lagi merupakan bagian dari rencana koloni angkasa, ide yang dirasakan makin masuk akal ketika Bumi yang selama ini menjadi habitat manusia semakin tidak nyaman dihuni, baik karena semakin panas maupun karena semakin sesak.

Kemarin dan esok

Dalam riwayat kemarin, catatan paling spektakuler tentang ekspedisi ke Bulan tentu Proyek Apollo yang dilakukan oleh AS pada dekade 1960-an dan 1970-an. Mendahului Apollo, Uni Soviet juga sudah mengirim Luna 2 ke Bulan tahun 1959, tetapi wahana ini menghantam permukaan Bulan dengan keras (crash landing). Pada tahun itu pula Soviet mengirim Luna 3 yang berhasil memotret permukaan jauh Bulan yang hingga saat itu belum pernah dilihat manusia. Di sini tampak bahwa Uni Soviet tampak selangkah lebih maju dibandingkan AS dalam peluncuran roket di pengujung dekade 1950-an itu.

Tekad Presiden JF Kennedy untuk mendaratkan warga Amerika di permukaan Bulan sebelum berakhirnya dekade 1960-an dalam pidatonya di Kongres AS 25 Mei 1961 dipicu oleh rangkaian program angkasa yang dicapai Uni Soviet, khususnya peluncuran Sputnik Oktober 1957 dan peluncuran Yuri Gagarin April 1961. Ruang angkasa saat itu telah menjadi bagian kompetisi Perang Dingin di antara kedua adidaya dunia.

Berikutnya, Bulan pun juga menjadi target kompetisi, yang kemudian dimenangi oleh AS setelah berhasil mendaratkan Neil Armstrong pada Bulan pada 21 Juli 1969 melalui misi Apollo 11. Setelah Program Apollo berakhir dengan peluncuran Apollo 17 tahun 1972, lalu Uni Soviet juga mengakhiri program Bulan- nya tahun 1974, minat ke Bulan seolah tak punya prospek lagi.

Namun, beberapa tahun berikutnya setelah lomba angkasa beralih fokus ke program wahana ulang-alik untuk misi dekat Bumi, minat ke Bulan tumbuh lagi. Kini bahkan mengikutsertakan peserta-peserta baru.

Jepang pada 14 September 2007 meluncurkan Misi Kaguya (Dewi Bulan), diikuti oleh peluncuran misi China Chang’e-1 pada 24 Oktober 2007. India diberitakan juga sedang mempersiapkan peluncuran misi Chandrayaan I pada Oktober 2008 ini. Sementara pemain lama, dalam hal ini AS dan Rusia, juga tak mau ketinggalan. Februari 2009 AS dijadwalkan meluncurkan Wahana Pengintai Bulan, sementara Rusia pada tahun yang sama juga akan meluncurkan misi Luna-Glob.

Eksplorasi itu tentu akan diikuti oleh misi berawak yang akan mendaratkan antariksawan masing-masing ke permukaan Bulan sebagaimana dilakukan oleh awak Apollo hampir 40 tahun silam. Hanya saja, misi ke depan ini disertai perspektif untuk pemanfaatan lebih jauh. Bulan sebagai lokasi uji coba koloni angkasa punya sejumlah nilai plus. Lokasinya yang relatif dekat dibandingkan Planet Mars, misalnya, akan jauh lebih memudahkan dalam transportasi material yang dibutuhkan.

Pada gilirannya nanti, hasil uji coba di Bulan pasti akan menjadi bekal berharga bagi aktivitas koloni di planet lain.

Partisipasi RI?

Dalam edisi Newsweek yang dikutip di atas dilaporkan perihal lomba antariksa Asia yang dipicu oleh kebangkitan China. Di sana disebutkan, pihak yang merasa paling terpicu adalah India, yang di satu sisi tampak akan dikalahkan China dalam lomba ke Bulan. Disebutkan, China berencana mendaratkan antariksawannya di Bulan tahun 2018 (atau 2020). Untuk itu anggaran yang disediakan Pemerintah China sebesar 2,5 miliar dollar AS, sementara India menyediakan 1 miliar dollar AS.

Fakta itu mungkin membuat kita merasa takjub. India tentu menyadari bahwa sekarang ini program pembangunan ekonomi untuk membuat lebih dari satu miliar penduduknya lebih sejahtera masih merupakan prioritas. Tetapi, sebagaimana bangsa ini bertekad mengembangkan kemampuan nuklir dan teknologi roket, mereka pun keras hati untuk ruang angkasa. Pemimpin Program Antariksa India Madhavan Nair, seperti dilaporkan Newsweek, membela program ini. Menurut dia, untuk setiap 1 dollar AS yang ditanamkan di program angkasa, India memperoleh 2 dollar AS.

Dibandingkan dengan anggaran Program Bulan India, anggaran Lapan hanya Rp 200 miliar (sekitar 20 juta dollar AS) per tahun. Sama-sama punya komitmen terhadap program angkasa, tampaknya pimpinan program ruang angkasa India dan Indonesia (Adi S Salatun) harus menyusuri jalan berlainan.

Padahal, dilihat dari berbagai sudut pandang, program peroketan—tidak harus yang bisa mencapai Bulan—besar manfaatnya, baik bagi tujuan sipil maupun militer. Dalam kaitan inilah sebaiknya Indonesia memberi fokus lebih besar terhadap program peroketan. Terakumulasinya pengalaman dan tenaga ahli bagi program ini diharapkan akan membangunkan komitmen untuk melaksanakan program lebih inovatif di bidang keantariksaan, yang sering disebut sebagai ”perbatasan terakhir”(the last frontier).

Pemandangan bulan sabit pada pagi hari memang menggugah inspirasi. Bahkan, pemandangan itu sempat memunculkan kembali pidato Presiden Kennedy itu, yang tersurat menyatakan harapan terhadap bangsanya, tetapi sebenarnya merupakan amanat agar bangsa Amerika menyatukan segala kemampuan yang dimiliki untuk bisa mendarat di Bulan. ”I believe that this nation should commit itself to achieving the goal before this decade is out of landing a man on the Moon and returning him safely to the Earth.”

Semoga semangat visioner seperti itu satu hari nanti juga hadir di sini.

Bulan Saturnus Juga Bercincin September 9, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment
Panah menunjukkan bulan bernama Anthe (atas) dan Methone (bawah) yang dikelilingi cincin parsial berbentuk seperti busur panah.

Cincin ternyata tak hanya menghiasi Planet Saturnus saja. Foto-foto terakhir yang dikirimkan wahana ruang angkasa Cassini menunjukkan bahwa cincin parsial juga mengelilingi bulan-bulannya.

Cassini mendeteksi cincin pertama di salah satu bulan yang bernama Anthe. Cincin kedua juga terekam di bulan lainnya bernama Methone. Kedua objek termasuk bulan Saturnus yang berukuran kecil.

Tidak seperti cinin planet Saturnus yang halus, lebar, dan membentuk lingkaran penuh, cincin parsial kasar, renggang, dan hanya membentuk lengkungan seperti busur panah. Cincin parsial tersusun dari serpihan-serpihan batu meteor yang mungkin menabrak permukaan bulan tersebut.

Nick Cooper, salah satu ilmuwan dari Universitas Queen Mary London yang terlibat dalam tim pengolah citra Cassini yakin cincin parsial terbentuk karena pengaruh gravitasi objek lainnya di sekitar kedua bulan tersebut. Sebab, Anthe dan Methone berada dekat Mimas, bulan lainnya yang ukurannya lebih besar.

Ia mengatakan, foto-foto tersebut mmberikan informasi baru. Informasi tersebut akan membantu mengungkap interaksi antara bulan-bulan Saturnus dan cincinnya.

Awan Aneh Terekam di Batas Atmosfer September 3, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
1 comment so far
Awan Mesosfer Kutub atau sering disebut awan noctilucent (menyala) direkam pada 22 Juli 2008 dari kabin stasiun antariksa international (ISS).

Semburat awan aneh berwarna biru tipis tampak menghampar di batas atmosfer Bumi dan luar angkasa. Pemandangan yang tidak biasa tersebut terihat dengan jelas dari dalam kabin stasiun antariksa internasional (ISS) yang berada di orbit Bumi.

Awan yang kelihatan menyala di kegelapan itu berada pada ketinggian 75-85 kilometer di atas permukaan tanah. Fenomena pembentukan awan yang beberapa kali terlihat di musim panas tersebut masih misterius meski telah diketahui sejak 120 tahun terakhir.

“Sungguh indah dan pemandangan ini menunjukkan begitu tingginya awan tersebut terbentuk di batas atmosfer,” ujar Gary Thomas, pakar atmosfer dari Universitas Colorado, AS. Awan seperti ini sering disebut awan mesosfer kutub karena sering terlihat di dekat kutub utara maupun selatan.

Sebagai perbandingan, awan cirrus yang biasa terlihat dari permukaan Bumi sebagai semburat tipis memanjang hanya berada pada ketinggian 18 kilometer. Awan yang lebih tebal dan berat lebih dekat dengan permukaan Bumi. Sementara awan tersebut terbentuk di lokasi yang udaranya hanya seperseratus juta kali udara di Gurun Sahara.

Thomas mengatakan uap air mungkin saja bergerak hingga lokasi setinggi itu. Sebagian di antaranya mungkin uap air dari penguapan yang tinggi di wilayah tropis yang menembus hingga batas ketinggian maksimum.

Sebagian lainnya mungkin uap air dari hasil oksidasi methan di lapisan tersebut. Konsentrasi methan diketahui mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat dalam 100 tahun terakhir. Masuk akal kalau terjadi perubahan pola awan tinggi dalam beberapa tahun terakhir akibat hal ini.

Apalagi, awan seperti ini pertama kali dilaporkan tak lama setelah Gunung Krakatau meletus pada 1883. Robert leslie dari Southampton, Inggris melaporkan awan tersebut pada senja hari pada Juli 1885 dan melaporkan hasil pengamatannya dalam jurnal Nature.

Selanjutnya, awan-awan sejenis dilaporkan dari kawasan utara seperti negara-negara Skandinavia, Skotlandia, dan Siberia. Munculnya awan yang “menyala dalam gelap” itu juga pernah dilaporkan dari Washington dan Oregon, AS, hingga Turki dan Iran. Awan serupa juga muncul tak lama setelah pesawat ulang alik Columbia yang membawa air 400 ton meledak tahun 2003.

Namun, asal-usulnya makin misterius saat satelit AIM (Aeronomy of Ice in the Mesosphere) diluncurkan tahun 2007. Satelit tersebut mendeteksi bahwa awan yang menyala di lapisan terluar atmosfer terbentuk dari kristal-kristal es yang ukurannya kurang dari 30 nanometer. Bagaimana kristal es sekecil itu terbentuk masih menjadi tanda tanya hingga kini.

Komet Raksasa Ditemukan di Orbit Planet Neptunus August 21, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment

Orbit SQ372 (biru), lebih melengkung daripada Neptunus, Pluto dan Sedna (putih, hijau, dan merah).

Para astronom mengumumkan penemuan sebuah objek raksasa menyerupai komet yang melintas di orbit Planet Neptunus. Benda langit yang diberi identitas 2006 SQ372 tersebut berdiameter antara 50-100 kilometer.

Objek tersebut diperkirakan tengah dalam perjalanan kembali untuk menyelesaikan satu kali putaran orbitnya terhadap Matahari yang mencapai 22.500 kilometer. Saat ini, ia berada pada jarak 2 miliar kilometer dari Bumi, namun karena lintasan opbit yang sangat lebar, suatu saat berada pada jarak terjauh hingga 241 miliar kilometer.

Benda langit lainnya yang memiliki orbit setara dengannya adalah Sedna, planet kerdil seperti Pluto yang ditemukan tahun 2003. Namun, orbit 2006 SQ372  lebih melengkung dan menjauh dari Matahari daripada Sedna.

“Pada dasarnya ia termasuk komet, namun tidak cukup dekat dengan Matahari sehingga tidak cukup membentuk ekor uap gas dan debu yang memanjang,” ujar Andrew Becker, astronom dari Universitas Washington. Objek ini mungkin terbentuk dari inti Awan Oort, gumpalan awan raksasa yang memanjang sejauh 30 triliun kilometer mengelilingi Matahari.

Becker dan timnya menemukannya setelah menganalisis data rekaman survei langit Sloan Digital Sky Survey II (SDSS II) sepanjang tahun 2005, 2006, dan 2007 menggunakan teleskop di Apache Point Obervatory. Penemuan ini akan dilaporkan dalam simposium internasional “The Sloan Digital Sky Survey: Asteroids to Cosmology” di Chicago Senin (18/8) dan akan dipublikasikan di Astrophysical Journal.