jump to navigation

Cacing “Rambut Api” Hidup di Lumpur Panas December 17, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
3 comments

Tidak hanya hidup di lumpur hangat yang ada di dasar laut, jenis cacing yang baru ditemukan ini juga memiliki “rambut api.” Tubuhnya tak hanya silinder memanjang umumnya cacing, melainkan di salah satu ujungnya terdapat banyak serabut berwarna merah yang bergerak bebas.

Karenanya pantas kalau cacing temuan Ana Hilario dari Universitas Averio Portugal itu akan dinamai Medusa, untuk mengingatkan pada makhluk berambut ular dalam mitologi Yunani. Hilario menemukannya di endapan lumpur vulkanik di Teluk Cadiz, Spanyol yang berada di bagian barat daya Samudera Atlantik.

Lumpur vulkanik yang muncul dari rekahan di dasar laut mengandung methan sehingga menyediakan sumber energi yang melimpah untuk membentuk komunitas kehidupan yang beragam. Dari kawasan tersebut, Hilario dan timnya menemukan 20 cacing namun hanya satu yang paling unik.

Cacing yang berukuran kecil tersebut diidentifikasi dalam kelompok yang disebut frenulate. Para ilmuwan belum banyak tahu mengenai cacing jenis ini. Salah satu rahasia alam yang telah diketahui bahwa di dalam tubuhnya terdapat organ khusus yang mengandung bakteri.

Bakteri tersebut membantu menghasilkan senyawa organik yang dibutuhkan cacing tersebut. Tubuh cacing menyerap zat kimia seperti methan melalui permukaan tubuhnya dan meneruskannya ke organ beriis bakteri untuk diolah.

Dari Laba-laba Sebesar Piring Hingga Luwing Naga December 17, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment

Desmoxytes purpurosea

Lebih dari 1000 spesies baru hewan dan tumbuh-tumbuhan ditemukan di daerah aliran Sungai Mekong Besar yang melintasi Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan China. Kehidupan liar yang sangat beragam dan belum tersentuh sebelumnya itu terungkap dalam ekspedisi selama satu dekade, dari 1997-2007, yang disponsori World Wildlife Foundation (WWF).

Di antaranya terdapat laba-laba huntsman terbesar di dunia. Spesies Heteropoda dagmarae itu berukuran sebesar piring dengan bentang kaki 30 centimeter. Laba-laba tersebut dikenal agresif, berburu di malam hari, dan menyergap mangsanya dari ranting, dahan, dan batang bambu yang tingginya tak lebih dari 4 meter dari permukaan tanah. Gigitannya bisa menyebabkan sakit yang lama, peradangan, hingga sakit kepala dan demam.

Juga terdapat katak pohon berdarah hijau spesies Chiromantis samkosensis di Kamboja. Tulangnya juga berwarna kebiruan sehingga tampak cantik dibungkus tubuhnya yang didominasi warna hijau.

Hewan yang tak kalah eksotis adalah kaki seribu (luwing) naga dengan tubuh berwarna pink dan dapat menghasilkan racun cyanida mematikan. Spesies bernama Desmoxytes purpurosea yang ditemukan di Thailand tahun 2007 itu mungkin menggunakan warna yang menyala untuk menakut-nakuti musuhnya.

“Saya kira temuan-temuan sebanyak ini akan mengubah buku sejarah,” ujar Stuart Chapman, direktur Program Mekong WWF dalam pernyataannya yang dirilis Senin (15/12). Total setidaknya tedapat 1068 spesies baru, masing-masing 519 jenis tumbuh-tumbuhan, 279 ikan, 88 katak, 46 kadal, 22 ular, 15 mamalia, 4 burung, 2 salamander, dan seekor kodok.

Tidak semua spesies-spesies unik tersebut ditemukan dalam lebatnya hutan. Misalnya tikus batu Laos (Laonastes aenigmamus), yang sebelumnya diduga telah punah 11 juta tahun lalu, ditemukan di dekat pasar lokal tahun 2005. Satu spesies ular berbisa jenis viper Trimeresurus gumprechti juga ditemukan dekat restoran di Taman Nasional Khao Yai Thailand tahun 2001.

Spesies-spesies tersebut masih hidup bebas di kawasan hutan tropis dan daerah basah sepanjang aliran Sungai Mekong Besar. Namun, dalam laporan temuan dengan tajuk “First Contact in the Great Mekong” keberadaan komunitas yang sangat beragam tersebut terancam konversi lahan. WWF menekankan pentingnya kerja sama lintas batas antarnegara-negara yang dilalui sungai tersebut untuk memastikan kelestarian dan keberlangsungan kehidupan liar di sana.

Kehidupan Laut Antartika Lebih Beragam Daripada Galapagos December 12, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment
Cacing Phyllodocid polychaete, salah satu makhluk yang ditemukan di Antartika.

Pulau-pulau yang ada di sekitar kutub selatan khususnya Antartika ternyata dihuni ribuan makhluk hidup. Temuan ini menarik karena lingkungan di Antartika sangat dingin, tidak hangat seperti wilayah tropis.

Tim ilmuwan internasional yang terdiri 23 orang dari lima badan riset menemukan surga kehidupan laut yang tersembunyi di Kepulauan South Orkney, dekat batas terluar Antartika. Sebanyak 1.224 spesies ditemukan di sana dari bulu babi, moluska, serangga, hingga burung. Lima spesies di antaranya diperkirakan baru dari jenis lumut laut dan isopoda.

Jumlah ini sedikit lebih banyak daripada kekayaan organisme di Hawaii, Kepulauan Karibia, bahkan Kepulauan Galapagos yang hanya dihuni 800 jenis hewan laut. Sekitar sepertiga spesies yang ditemukan di South Orkney belum pernah ditemukan di sana sebelumnya, misalnya tiga jenis gurita, empat jenis siput laut, lima jenis bulu babi, dan satu jenis bintang laut.

“Kelimpahan yang tak diperkirakan sebelumnya di kawasan Antartika merupakan pembanding penting untuk memantau bagaimana hewan-hewan ini merespons lingkungan di masa depan,” ujar David Barnes, seorang biolog kelautan dari British Antarctic Survey (BAS) yang memimpin penelitian ini.

Temperatur laut di Antartika telah mengalami kenaikan satu derajat Celsius dalam 50 tahun terakhir. Suhu udara di atasnya juga naik sedikit lebih rendah dalam periode yang sama. Hal tersebut diduga merupakan akibat pemanasan global yang dapat mengganggu kehidupan di muka Bumi. *

Gen Kanguru Menyerupai Gen Manusia November 22, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment

Ilustrasi: Kanguru saling menyerang.

Kanguru Australia secara genetika serupa dengan manusia dan mungkin pertama kali berevolusi di China.

Beberapa ilmuwan Australia, Selasa (18/11), mengatakan, mereka untuk pertama kali telah memetakan kode genetika hewan khas Australia tersebut dan mendapati kebanyakan gen itu serupa dengan gen manusia. Demikian keterangan Centre of Excellence for Kangaroo Genomics, lembaga yang didukung pemerintah.

“Ada sedikit perbedaan, kami memiliki beberapa tambahan ini, kurang dari itu, tapi semuanya adalah gen yang sama dan banyak di antaranya memiliki susunan yang sama,” kata Direktur lembaga tersebut Jenny Graves kepada wartawan di Melbourne.

“Kami mulanya mengira semuanya akan tercampur penuh, tetapi ternyata tidak. Ada banyak potongan genome manusia yang berada tepat di dalam genome kanguru,” kata Graves, sebagaimana dilaporkan AAP.

Manusia dan kanguru terakhir memiliki nenek moyang yang sama setidaknya 150 juta tahun lalu, demikian temuan para peneliti tersebut, sementara tikus dan manusia berpisah satu sama lain hanya 70 juta tahun lalu.

Kanguru pertama kali berevolusi di China, tapi pindah melewati dataran Amerika ke Australia dan Antartika. “Kanguru adalah sumber informasi yang sangat besar mengenai seperti apa kita 150 juta tahun lalu,” kata Graves.

Semut Pedalaman Lebih Suka Garam Daripada Gula November 15, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
1 comment so far
Semut pemakan daun lebih suka larutan garam daripada gula.

Coba perhatikan perilaku semut di sekitar rumah Anda. Pisang goreng atau kerupuk di atas meja makan yang notebene tidak manis apakah tetap dikerumuni seperti halnya sejumput gula atau sirup yang tumpah.

Kenyataannya sebagian koloni semut bahkan lebih menyukai garam daripada gula. Setidaknya perilaku ini terlihat pada semut-semut yang tinggal di pedalaman yang jauh dari laut.

“Ketertarikan terhadap garam meningkat seiring jarak dari laut,” ujar Profesor Robert Dudley, salah satu peneliti dari Universitas California Berkeley, AS. Kesimpulan tersebut diambil setelah Dudley dan koleganya dari Universitas Arkansas Little Rock (UALR) dan Universitas Oklahoma membandingkan sejumlah populasi semut di Amerika.

Mereka mempelajari perilaku semut dari Amerika Tengah, Selatan, dan Utara yang hidup di lokasi berbeda-beda. Semut yang hidup di habitat berjarak 96 kilometer dari garis pantai ternyata lebih suka larutan garam satu persen daripada larutan gula 10 persen.

Kecenderungan ini tampak sekali pada semut pemakan daun daripada semut pamakan daging, seperti semut merah. Semut pemakan daun mungkin membutuhkan asupan garam tambahan lebih banyak karena tidak memperoleh sebanyak semut pemakan daging.

Alasan ini sama halnya dengan seekor bison, kijang, atau badak yang suka menjilat tanah untuk menambah asupan garam. Sementara hewan pemakan daging seperti singa gunung dan srigala tidak melakukannya karena sudah cukup mendapatkan garam dari mangsanya.

Belalang Ranting Serangga Terpanjang October 22, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment
Serangga ranting (Phobaeticus chani) dari Kalimantan tercatat sebagai serangga terpanjang di dunia.

Satwa unik yang dikenal para ahli serangga Indonesia sebagai belalang ranting dari hutan Pulau Kalimantan, diidentifikasi para peneliti pada Museum Sejarah Alam, London, Inggris, sebagai serangga terpanjang di dunia.

Spesies Phobaeticus chani betina itu memiliki panjang 56,7 sentimeter atau lebih panjang 1 cm dari spesies sebelumnya yang ditemukan di Malaysia dan Indonesia, Phobaeticus serratipes.

Secara fisik, serangga ranting menyerupai pensil dengan empat lengan dan dua antena. Untuk bertahan hidup dari predator alami di hutan-hutan tropis, serangga itu menyamar di antara ranting-ranting dan seresah dedaunan.

Selain berbentuk unik, serangga ranting diketahui dapat berubah warna menyesuaikan media yang dihinggapinya. Diungkapkan pihak Museum Sejarah Alam, dua spesimen Phobaeticus chani yang lain dikoleksi di Malaysia.

Kepastian status terpanjang di dunia itu, seperti dilaporkan Kantor Berita Associated Press (AP), ditegaskan beberapa ahli serangga (entomolog) dari Inggris, Italia, dan Amerika Serikat (AS), yang secara resmi dimuat dalam jurnal Zootaxa yang terbit bulan ini. Penambahan nama chani di belakang Phobaeticus untuk menghormati Chan Chew Lun.

”Kami punya banyak belalang ranting, tetapi dari genus lain,” kata peneliti serangga pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Rosichon Ubaidillah ketika dihubungi di Cibinong, Jawa Barat, Jumat (17/10). Spesimen belalang ranting dari genus Cyphocrania sepanjang 30 cm tersimpan di Museum Biologi LIPI.

Menurut Rosichon, masih banyak jenis belalang ranting koleksi LIPI, tetapi belum diidentifikasi secara detail. Di dunia, setidaknya 3.000 spesies belalang ranting yang telah diidentifikasi.

Selamat Datang Iguana Baru dari Fiji October 8, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
1 comment so far
Brachylophus bulabula

Katakan selamat datang kepada Brachylophus bulabula, spesies iguna baru dari Kepulauan Fiji. Namanya diambil dari Bula, kata sambutan selamat datang yang biasa diucapkan penduduk asli pada negara kepulauan di Samudera Pasifik tersebut.

Reptil yang berhidung kuning dan bertubuh belang tersebut merupakan spesies iguana ketiga yang ditemukan di Fiji. Sebelumnya hanya diketahui 2 spesies berbeda, namun dari hasil tes DNA menunjukkan terdapat spesies yang secara genetika berbeda dari dua spesies yang ada.

Robert Fisher, zoolog dari badan Geologi AS (USGS) di San Diego, AS mulai mempelajari keunikan morfologi dan genetika iguana tersebut sejak dua tahun lalu. setelah membandingkannya dengan sejumlah spesies sejenis di museum, ia menemukan keunikan fisik, genetik, maupun perilaku pada iguana tersebut.

B. bulabula memiliki warna hidung yang lebih cerah dan corak berbentuk U yang khas di punggungnya,” ujar Fisher yang melaporkannya dalam edisi terbaru “Philosophical Transactions of the Royal Society B.” Dua bunglon yang sudah diketahui lebih dulu memiliki bentuk corak yang lancip seperti huruf V. Selain itu, spesies yang baru juga lebih menyukai kawasan hutan yang basah.

Fisher mengatakan di Fiji mungkin masih banyak spesies iguana yang belum ditemukan. Sebab, masih banyak daerah dan pulau yang belum dijelajahi termasuk kawasan pelosok di pulau-pulau terpencil.

Ikan Karang Menyala Merah untuk Berkomunikasi September 29, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment
Enneapterygius pusillus

Di antara celah karang yang tajam, ikan-ikan yang hidup di laut memiliki cara komunikasi yang unik satu sama lain. Misalnya, dengan kemampuan menyala dalam gelap atau fluorisensi untuk menunjukkan eksistensinya.

Berdasarkan hasil studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Biology edisi September 2008, setidaknya terdapat 32 jenis spesies ikan karang yang memiliki kemampuan tersebut. Ikan-ikan itu hidup pada kedalaman lebih dari 10 meter.

Salah satunya spesies Enneapterygius pusillus dan Pseudocheilinus evanidus yang baru diketahui menyala merah di kegelapan. Penemuan tersebut mengejutkan karena ikan laut secara teori lebih memilih warna hijau atau biru yang memiliki panjang gelombang pendek.

“Ikan laut umumnya tidak melihat atau menggunakan warna merah, kecuali beberapa ikan laut dalam,” ujar Nico Machiels, dari Universitas Tuebingen, Jerman. Sebab, mata ikan lebih peka terhadap gelombang pendek.

ia mengatakan ikan-ikan tersebut tidak memproduksi sendiri warna merah itu. Namun, pigmen-pigmen di tubuhnya mengubah gelombang cahaya hijau dan biru yang jatuh ke tubuhnya dan memantulkannya menjadi gelombang cahaya merah.

Hal ini menunjukkan bahwa waran merah mungkin juga umum digunakan ikan laut. Tubuh yang berpendar menjadi cara ikan tersebut untuk berkomunikasi dengan sesamanya.

Simpanse Lebih Suka Makanan yang Dimasak September 29, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment
Simpanse di Taman Nasional Kibale, Uganda makan tanah dan duan-daunan yang berkhasiat untuk kesehatannya.

Andai dapat melakukannya sendiri, hewan ternyata juga lebih suka mengonsumsi makanan yang dimasak terlebih dahulu. Selain lebih mudah dikunyah, makanan yang dimasak lebih mudah dicerna organ pencernaan.

Nenek moyang manusia mungkin menyadari manfaat tersebut sehingga memilih memasak makanannya. Sayangnya, bukti-bukti yang mendukung pendapat tersebut sulit ditemukan.

Salah satunya mungkin dapat dilihat dari hasil penelitian terbaru terhadap kera besar untuk menilai makanan yang dimasak dan tidak. Kera besar dan manusia memiliki sifat genetika yang sebagian besar sama.

Penelitian yang dilakukan Victoria Wobber dan mahasiswa bimbingannya di Universitas Harvard menyediakan dua jenis makanan kepada beberapa spesies kera besar. Bonobo, gorila, dan orangutan ternyata tak terlalu memilih-milih makanan yang dimasak atau tidak. Kecuali untuk daging sapu, mereka lebih suka yang dipanggang.

Hal yang cukup berbeda terlihat pada simpanse, kera besar paling dekat kekerabatannya dengan manusia dan diketahui memiliki 98 persen DNA seperti manusia. Simpanse jelas lebih suka wortel, kentang manis, dan daging sapi yang dimasak daripada dalam bentuk mentah. Namun, mereka tak memilih-milih kentang putih dan apel yang dimasak karena tidak mengalami perubahan rasa yang berarti.

Sebelumnya hewan lain juga diketahui lebih menyukai makanan yang dimasak. Misalnya, kucing yang menyukai daging matang atau tikus yang lebih suka gandum yang dimasak. Meski jarang atau bahkan tak pernah menemukan makanan yang dimasak, hewan ternyata lebih menyukainya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mungkin mencoba memasak makanan begitu punya kesempatan untuk mencobanya di masa lalu dan mewariskannya hingga kini.

Burung Murai Sadar Bercermin September 9, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment
Pica pica

Jika Anda memiliki burung, coba sekali-sekali hadapkan ke depan cermin. Apa reaksinya. Apakah ia menolehkan kepala ke kanan dan kiri layaknya manusia yang tengah berdandan?

Umumnya hal tersebut merupakan kemampuan dasar primata seperti simpanse dan manusia. Lumba-lumba dan gajah juga telah terbukti punya kemampaun tersebut.

Sebagian burung ternyata memang dapat melakukannya dan mengenalinya dirinya di depan cermin. Namun, tak semua jenis burung. Burung betet dan beo memang merespon cermin namun mereka tak tahu bahwa di balik cermin adalah bayangannya.

Hanya burung-burung yang memiliki interaksi sosial tinggi yang mengenali bayangan dirinya di balik cermin. Terutama burung dari kelompok gagak. Baru-baru ini, burung murai dari sopesies Pica pica juga lulus tes bercermin.

Dalam percobaan di laboratorium, peneliti Jerman dari Universitas Goethe Frankfurt, menguji lima ekor murai. Masing-masing bernama Gerti, Goldie, Harvey, Lilly, dan Schatzi. Pada masing-masing bulunya ditempelkan stiker berwarna kuning dan merah yang hanya dapat dilihat dari cermin.

Saat dihadapkan di depan cermin, burung-burung murai tersebut sangat sibuk memperhatikan tanda yang kontras di tubuhnya itu. Masing-masing kemudian mencoba meraihnya dengan paruh dan kukunya. Dalam beberapa kali percobaan, mereka sukses melepaskannya dan berhenti setelah berhasil.

Namun, saat diberi stiker berwarna hitam yang tidak terlalu berbeda warna dengan bulunya, mereka tak terlalu meresponnya. Burung-burung tersebut juga tak melakukan tindakan apapun terhadap stiker tersebut saat tidak dihadapkan pada cermin.

“Secara umum, hasilnya menunjukkan bahwa burung murai mampu memahami bahwa bayangan dirinya di cermin,” demikain kesimpulan yang dimuat para peneliti dalam jurnal PLoS Biology edisi terbaru. Mereka menyatakan tidak sampai meneliti tingkat pengenalannya namun baru sekadar respon terhadap bayangan sendiri.

Pengenalan bayangan diri sendiri merupakan faktor penting dalam interaksi. Antara lain untuk membandingkan pengalamannya dengan pengalaman sesamanya.