jump to navigation

Balapan F1 Pakai Bahan Bakar Nabati? October 10, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment
Pembalap Ferarri asal Brasil, Felipe Massa, lebih dahulu memasuki tikungan pertama Grand Prix Bahrain, Minggu (6/4) di Sirkuit Internasional Bahrain. Massa tak tertandingi oleh pembalap lain dan menjuarai lomba tersebut.

Citra untuk mengurangi pemanasan global terus dibangun dalam kongres International Union for Conservation of Nature (IUCN) yang berlangsung di Barcelona, Spanyol, 5-14 Oktober 2008. Di antaranya muncul gagasan penyelenggaraan olahraga balap mobil kelas dunia Grand Prix untuk mencitrakan penggunaan bahan bakar nabati sebagai upaya mengurangi efek rumah kaca.

“Setiap orang bisa memainkan peran masing-masing. Itu pesan pentingnya,” ujar Pangeran Albert dari Monako yang menyampaikan gagasan penggunaan bahan bakar nabati untuk Grand Prix di sela penyelenggaraan kongres IUCN, seperti dikutip Reuters, Rabu (8/10).

Albert tahun ini dinobatkan sebagai “Champion of the Earth” oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani bidang program lingkungan (UNEP) atas prakarsa kebijakan mereduksi pengeluaran karbon dioksida bagi masyarakatnya. Di antaranya kebijakan pengembangan insentif bagi yang menggalakkan penggunaan sepeda, kemudian insentif bagi penggunaan sel surya pada kereta api untuk pembangkit listriknya.

Albert menekankan, insentif merupakan dorongan agar orang mau beralih memakai teknologi yang ramah lingkungan. Kemudian setiap orang akan mengambil bagian peran masing-masing untuk berpihak terhadap lingkungan dan perubahan iklim.

“Bagaimana Anda bisa berbicara tentang isu lingkungan ketika Anda punya sirkuit balap Formula Satu?” ujar Albert.

Pada hari sebelumnya, Reuters juga mengutip Kepala UNEP Achim Steiner yang memaparkan konsep ekonomi hijau di dalam kongres IUCN tersebut. Pada kesempatan itu, Steiner menyajikan 100 gagasan dari alam untuk menunjang konsep ekonomi hijau sebagai biomimikri, atau meniru dari alam.

Dari survei UNEP, Steiner menunjukkan beberapa perusahaan mampu meniru alam. Seperti perusahaan yang memproduksi turbin pembangkit listrik dengan tenaga angin menghasilkan turbin yang digerakkan baling-baling dengan inspirasi sirip paus bongkok sehingga walaupun dengan angin yang lemah tetap bisa menghasilkan listrik yang optimal.

Janine Benyus dari Biomimicry Guild yang menyusun laporan 100 gagasan dari alam untuk UNEP mengatakan, konservasi berbagai habitat sekarang menjadi sumber untuk pengembangan industri mendatang.

Ia mengemukakan, seperti bulu-bulu pada bunga edelweis yang mampu melindungi efek radiasi gelombang panjang ultraviolet dapat dikembangkan untuk industri produk perlindungan dari sinar matahari. “Industri sekarang semestinya bergerak untuk mengembangkan berbagai gagasan dari lautan dan hutan di dunia,” kata Janine Benyus.

Dia juga mengemukakan, upaya biomimikri atau meniru alam bagi industri di masa mendatang dapat menghasilkan pendapatan berlimpah.

Kutub Utara Tanpa Es Mulai Tahun Ini July 5, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment
Kapal pemecah es tengah mengarungi lautan beku Arktik di dekat Pulau Spitsbergen, Norwegia.

Kenaikan suhu di kawasan Arktik, kutub utara, menyebabkan pencairan es yang semakin cepat dan meluas. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, wilayah kutub utara mungkin tanpa es pada musim panas tahun ini.

“Kami memprediksi tahun ini kawasan kutub utara mungkin bebas dari es untuk pertama kalinya,” ujar David Barber, peneliti dari Universitas Manitoba, yang tengah melakukan ekspedisi dengan kapal pemecah es Kanada, CCGS Amundsen.

Pendapat Barber didukung pengamatan langsung dan citra satelit. Data menunjukkan, sebagian besar es di sana merupakan lapisan muda yang berusia kurang dari setahun. Lapisan tersebut terbentuk sepanjang musim dingin.

Es muda sangat rapuh dan berisiko mencair pada musim panas lebih tinggi dari es abadi yang terbentuk sejak bertahun-tahun. Kenaikan suhu juga berisiko mencairkan lapisan es yang lebih tebal meskipun ada peluang bertahan pada musim panas tahun ini.

Perkiraan ini lebih cepat daripada prediksi selama ini. Pada model iklim sebelumnya, kawasan es Arktik diprediksi baru bebas es untuk pertama kalinya pada tahun 2013-2030. Hal tersebut menunjukkan ancaman pemanasan global datang lebih cepat. “Kita kehilangan 65 persen lapisan es di belahan utara dalam setahun,” ujar Barber. Rekor pencairan yang dirasakan tahun lalu, menurut para ilmuwan, disebabkan kombinasi arus hangat, angin kering, dan sinar matahari yang terik. Kombinasi yang merusak itu belum tentu terjadi tahun ini, namun dampaknya sudah mulai terlihat.

Kawasan yang mencair sebenarnya segera tertutup kembali lapisan es karena musim dingin yang juga ekstrem. Namun, lapisan es yang terbentuk terlalu tipis sehingga rentan pecah dan mencair.

Beting Es Antartika Pecah June 17, 2008

Posted by dgaip5 in Uncategorized.
Tags:
add a comment
Beting es Wilkins pecah seluas 160 kilometer persegi seperti diperlihatkan radar satelit Envisat, Advanced Synthetic Aperture Radar (ASAR) pada 30 Mei 2008.

Satelit Envisat milik badan antariksa Eropa merekam pecahnya beting es Antartika di Kutub Selatan, akhir Mei lalu. Ini adalah rekaman peristiwa kedua tahun ini dan rekaman pertama pecahnya lapisan es dalam ukuran besar di musim dingin.

Retakan terjadi pada 30-31 Mei 2008 di beting es Wilkins yang menghubungkan pulau es Charcot dan Latedy. Wilkins adalah pulau es raksasa di kawasan Semenanjung Antartika yang berada di sebelah selatan Amerika Selatan.  Luas es yang pecah di kawasan tersebut  mencapai 160 kilometer persegi.

Luas es yang pecah kali ini masih lebih kecil daripada peristiwa sebelumnya, yang terjadi pada Februari 2008 seluas 400 kilometer persegi. Namun, kejadian kali ini mengejutkan karena terjadi pada musim dingin. Selain itu, para ilmuwan yang memonitor khawatir kejadian tersebut masih belum berhenti.

“Lapisan yang tersisa melengkung di bagian permukaannya sehingga ada kemungkinan pecah lagi dalam beberapa hari ke depan,” demikian pernyataan Matthias Braun dari Universitas Bonn dan Angelika Humbert dari Universitas Munster Jerman. Pemantauan tersebut merupakan bagian dari program global antarnegara bernama¬† International Polar Year (IPY) 2007-2008.

Semenanjung Antartika menghadapi kenaikan suhu paling tinggi dibandingkan kawasan lain di Kutub Selatan. Dalam 50 tahun terakhir, suhu rata-rata di kawasan tersebut naik 2,5 derajat Celcius.

Sebagai dampaknya, tujuh beting es di kawasan tersebut pecah sepanjang 20 tahun terakhir. Peristiwa terbesar terjadi tahun 2002 di beting es Larsen B dan pecahannya mengapung ke lautan lepas.